Upaya Mendiskriminasi Sejarah dan Umat Islam Indonesia

Dewasa ini islam benar-benar dianggap sebagai ancaman, bukan saja oleh kalangan non islam tapi oleh penganutnya sendiri. Ajaran yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta ini diibaratkan sebagai ideologi yang merusak tatanan kehidupan masyarakat. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang berisi aturan tatanan kehidupan masyarakat baik dalam hubungan dengan sesama mahluk maupun dengan sang khalik ini, dianggap sebagai buku filosofi yang tak berarti, bahkan lebih buruk adalah Al-Qur’an didzolimi, diinjak-injak dibakar (peristiwa 11/09/2010)  dan masih banyak lagi perlakuan tidak manusiawi terhadap aturan Allah ini.

Yahudi merupakan kelompok yang tak pernah bisa melihat Al-Qur’an ini dibumikan. Berbagai cara propaganda dilakukan guna memberangus islam dan Al-Qur’an. Perlu diketahui bahwa orang-orang yahudi sangat paham dengan Al-Qur’an, namun mereka sangat malu dan tidak mau mengakuinya secara terang-terangan. Mereka mengira bahwa Al-Qur’an itu ciptaan manusia atau suatu mahluk, sehingga mereka dengan mudah bisa menghilangkan Al-Qu’an, mereka lupa bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Limpahan kekayaan alam berupa minyak bumi, emas dan hasil tambang lainnya yang  Allah kepada Bangsa Arab telah membuat bangsa barat khususnya Eropa dan Amerika menjadi gelap mata. Segala upaya dilakukan demi mendapatkan hasil kekayaan itu, yang tentunya dilakukan dengan jalan yang sangat tidak halal. Rekaya kitab suci Taurat dan Injil yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang sering dikenal dengan istilah “tanah yang dijanjikan” dijadikan sandaran untuk membenarkan tindakan para kafirin ini untuk memperoleh dan mencuri kekayaan Bangsa Arab dan khususnya harta kaum muslimin.

Tak perlu dirahasiakan, terjadinya perang salib merupakan salah satu contoh dimana usaha kafirin itu untuk menguasai tanah dan harta kaum muslimin. Perang salib itu hingga sekarang ini entah yang keberapa kalinya. Jika dikatakan bahwa perang salib telah berakhir, itu hanya omong kosong belaka. Pembunuhan atau kasus kekerasan terhadap umat islam di berbagai belahan dunia demikian juga di Indonesia adalah merupakan salah satu kelanjutan dari perang salib itu sendiri.

Berbagai peristiwa yang terjadi di kalangan umat islam dalam era milenium baru ini, selalu dipolitisasi sebagai seolah-olah umat islamlah yang mendalanginya. Sejarah mencatat dan Allah, masyarakat dan alam  menjadi saksi semua kejadian atau peristiwa pelecehan serta tindakan kriminal yang dilakukan oleh umat lain terhadap keyakinan dan akidah umat islam, khususnya terhadap ajaran islam. Demikian di Indonesia, beberapa kasus seperti Konflik di Maluku, Kasus di Bekasi, Kasus di Poso, serta berbagai kasus lain yang tak terekam oleh media. Kasus konflik di Maluku salah satu contohnya, di katakan bahwa konflik ini merupakan kasus salah paham yang bermula dari kasus perkelahian antara pemuda, monopoli ekonomi oleh para pendatang BBM ( Buton, Bugis, Makassar) serta ratusan alasan yang lain. Tapi terlepas dari semua alasan itu, fakta tidak bisa dibohongi dan masyarakat awam pun tahu, bahwa konflik itu murni adalah konflik bernuansa agama yang terkesan disusun dengan sangat rapi dan terorganisir. Memberangus umat islam Maluku itu adalah tujuan utama konflik Maluku, sebagai bagian dari perang salib itu sendiri.

Kasus yang sangat menonjol adalah upaya menjadikan Monokwari sebagai “kota injil” dengan perda yang berlandaskan injil, kasus ini jelas sangat menyakitkan perasaan umat ini dan merupakan tindakan pelecehan yang nyata. Pelarangan mengumandankan azan serta penggunaan simbol-simbol islam (busana muslim) menjadi bukti bahwa toleransi kebhinekaan yang selama ini di junjung hanyalah simbolitas tanpa arti.

Kasus kejadian di Bekasi, menjadi salah satu bukti bahwa ada upaya mengganggu kenyamanan umat islam Bekasi dan umumnya Indonesia. SKB Tiga Menteri yang dijadikan acuan bagi kehidupan beragama, hanya barisan huruf-huruf yang berjejer rapi tanpa makna di lembaran kertas. Dengan memanipulasi perizinan dari warga sekitar perkampungan di ciketing dan dengan alasan SKB Tiga Menteri untuk kebebasan beragama, maka tanpa peduli dengan perasaan umat islam, jamaah HKBP melakukan peribadatan di rumah seorang jamaahnya yang kemudian tempat itu dijadikan sebagai lokasi untuk pendirian tempat peribadatan. Lokasi ini terletak dipemukiman yang mayoritas umat islam. Masih sangat segar dalam ingatan kita, peristiwa kejadian tanggal 12 September 2010 yang masih dalam suasana lebaran, ratusan Jamaah HKBP melakukan konvoi keliling di perkampungan warga lalu berpapasan dengan beberapa warga muslim yang kemudian terjadi perkelahian, sehingga menimbulkan korban jiwa.  Media pun membesar-besarkan hal ini. Berbagai media cetak menulis FPI sebagai dalang dan ketuanya dinon aktifkan, anggota PFI ditangkap sementara para jamaah HKBP yang melakukan konvoi liar di perkampungan warga bebas. Pendeta dan jamaah HKBP yang dirawat di RS dibiayai oleh negara, aktifis islam di RS ditelantarkan, bahkan ada yang ditangkap saat menjalani perawatan di RS. Media menulis warga muslim/OTK melakukan upaya pembunuhan terhadap pendeta HKBP. Bagaimana mungkin 9 orang menghadang ratusan massa. Berbagai keanehan muncul ketika di undang untuk dialog, mengapa para pendeta HKBP tidak ada yang datang, padahal mereka termasuk yang memprakarsai forum dialog itu. Kejadian ini malah dibawa ke forum internasional. ini adalah upaya untuk mendiskreditkan umat islam Bekasi dan Indonesia secara umum.

Kita tak boleh lupa, bahwa upaya untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu, kekangan, jajahan serta penindasan bangsa barat lebih banyak dilakukan oleh umat islam negeri ini. Mulai dari Sultan Hairun, Sultan Baabullah, Sultan Iskandar Muda, Sultan Agung, Sultan Hasanuddin, Sultan Trenggano, Sunan Gunung Jati/Fatahillah, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Pangeran Antasai, Bung Tomo, sampai Panglima Besar Jenderal Sudirman adalah tokoh agama yang memperjuangkan kebebasan/kemerdekaan bangsa ini dengan satu landasan yang jelas yakni islam sebagai landasan perjuangan, bukan pancasila. Sebut saja, organisasi pertama yang didirikan oleh tokoh bangsa ini adalah Sarikat Dagang Islam yang dibentuk oleh Haji Samanhudi pada tahun 1905. Tetapi, mengapa sejarah mengingkari  itu. dan mengapa Budi Utomo yang belakangan dibentuk dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional, ini sangat jelas bahwa ada upaya untuk menenggelamkan sejarah kejayaan islam di Bumi Nusantara ini.

Salah satu bukti konkrit dalam upaya menenggelamkan sejarah emas muslim tanah air adalah dengan mengganti mukaddimah pembukaan UUD 1945 yakni  Sila Pertama, yakni Ketuhanan dengan menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya. Dengan dalih kebhinekaan dan toleransi serta kemajemukan bangsa ini, maka sila ini diganti dengan kalimat  Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini sangat nyata bahwa ada upaya untuk menenggelamkan sejarah perjuangan umat muslim tanah air dalam upaya membebaskan bangsa ini. Apa yang terjadi dikemudian hari adalah bukti bahwa pancasila tidak banyak berarti apa-apa bagi bangsa ini, toleransi yang didengung-dengungkan di injak-injak, aktifis islam diberangus, ulama ditindas dan dibunuh,  bahkan pada masa ORBA, islam dianggap sebagai ancaman oleh penguasa negeri ini. Militer di era Soeharto benar-benar memberangus segala sesuatu yang bernafaskan islam.

Kita berada di milenium baru, lebih kejam lagi dari sebelumnya. Kalau masa ORBA, Ulama dan aktifis muslim dibunuh dengan penjara seumur hidup atau disuntik/ masukkan kedalam ruang gas beracun ( sepertinya cara itu sedikit beretika menurut anggapan penguasa ORBA), maka kemudian berkembang alasan  bahwa aktifis/ulama itu meninggal karena serangan jantung. Kini pemberangusan aktifis islam/ulama lebih nyata lagi, yakni langsung didoor. Tembak dulu, penjara dulu, proses hukum dari belakang, salah benar urusan terakhir.

Zaman ORBA aktifis islam disebut Separatis. Sekarang muncul sebuah istilah baru untuk aktifis islam/ulama, istilah pinjaman dari dunia barat yang belum mampu didefenisikan oleh para pakar yakni ” terorisme”. Bush menggunakan kata ini untuk memerangi muslim di Irak dan Afganistan (Al-Qaidah), Israel menggunakannya untuk memberangus Pejuanga Palestina (Hamas), semua itu adalah ingin menguasai sumber minyak atau emas hitam negeri muslim itu. Pasukan anti teror (Densus 88) merupakan pasukan Polisi Amerika / Australia di Indonesia yang bertugas untuk memberangus aktifis /ulama islam di nusantara ini dengan stempel teroris.

pendiskriminasian umat islam Indonesia di milenium ini sangat nyata. diwaktu yang sama upaya kristenisasi di Indonesia benar-benar subur dan mendapat perlindungan hukum dengan dalih kebebasan beragama. Ibarat jalan, Ketika aktifis dan ulama berdakwah maka, HAM, penguasa dan pengadilan berdiri tegak (menghadang), tetapi ketika kristenisasi permisi maka HAM, Penguasa dan pengadilan menjadi jembatan penghubung.

Penguasa negeri ini benar-benar lupa siapa sesungguhnya yang berjuang membebaskan bangsa ini.

“Muslim memberikan emas, penguasa membalasnya dengan air tuba”, itulah yang terjadi saat ini.

 

Ambon, 16 Oktober 2010

 

Kaindea Kurnama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: