Lunturnya Kesadaran Nasional

Nasionalisme bangsa indonesia cenderung mengalami penurunan yang sangat drastis, khususnya pada anak remaja. Fenomena yang muncul akhir-akhir ini adalah rasa kesukuan. Rasa primordialisme ini cenderung menggeser semangat kebangsaan, apalagi ditengah tantangan globalisasi dewasa ini. Pertentangan antar etnis, konflik bernuansa sara, juga sejumlah permasalahan lain yang mengancam keutuhan bangsa ini. disintegrasi bangsa merupakan sebuah persoalan besar yang menjadi tantang bagi pemerintah kedepan disamping masalah kesejahteraan. Munculnya disintegrasi bangsa disebabkan karena banyak kalangan yang selalu keliru dalam menafsirkan otonomi daerah.

Kemerdekaan yang diperjuangan oleh segenap leluhur bangsa ini yang tanpa mengenal latar belakang,  sebenarnya  merupakan modal dasar terwujudnya indonesia yang berkesatuan.

menurut hemat penulis bahwa, semakin berkurangnya nasionalisme serta kesadaran nasional yang ada pada generasi penerus bangsa ini antara lain :

1. kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai historis

Nasionalisme Bangsa Indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan hindu budha, walaupun secara nyata saat itu belum ada yang namanya ” Bangsa Indonesia”. Raja Kertanegara yang memotong telinga utusan Khubilai Khan, sebagai sombol rasa cintanya akan bangsanya yang saat itu merupakan Kerajaan Tarumanegara. Perlawanan Raden Mas Rangsang ( Sultan Agung) pada penjajah Belanda, demikian juga dengan Srikandi dari Aceh ( Cut Meuthia). Sultan Iskandar Muda, Sultan Nuku, Pattimura, merupakan secuil dari bukti bahwa nasionalisme telah ada jauh sebelum kedatangan bangsa barat di indonesia. munculnya kerajaan islam di indonesia semakin mempertegas rasa nasionalisme serta kedasaran akan adanya hidup berdampingan sebagai satu bangsa. Hal ini dapat kita lihat bahwa saling membantu dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda terlihat secara jelas. Dengan menggunakan Perahu Pinisi, para pelaut asal sulawesi membantu perlawanan masyarakat maluku dan maluku utara dalam menentang belanda, hal ini karena dilandasi semangat dan kesadaran yang tinggi untuk hidup sebagai satu bangsa. Adanya politik etis serta munculnya golongan terpelajar yang bangkit dari keterpurukan serta penindasan barat semakin mempertegas semangat nasionalisme serta kesadaran nasional, lahirnya organisasi kepemudaan hingga pelaksanaan Sumpah Pemuda merupakan bukti tingginya kesadaran nasional yang dimiliki oleh para pendahulu kita. Dewasa ini semua nilai-nilai historis itu cenderung dilupakan oleh generasi bangsa ini. jika hal ini tidak dapat diatasi maka bukan suatu hal uang mustahil bangsa ini akan terpecah.

2. Hilangnya Rasa Toleransi

Suatu keluarga akan terbentuk dengan baik serta harmonis jika nilai toleransi dijadikan sebagai fondasinya, demikian juga dengan suatu bangsa. Bangsa Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa yang sangat beranekaragam suku bangsa dan budayanya. Sejak jaman pra kerajaan di indonesia toleransi sudah ada, telah ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang baik antara masyarakat prasejarah indonesia. dan itu berlangung hingga munculnya negara-negara kerajaan baik yang bercorak hindu buhda maupun islam. Rasa toleransi itu mencapai puncaknya dengan diikrarkannya hidup satu bangsa, memakai satu bahasa, serta mengakui sebagai satu tanah air yaitu indonesia oleh para pemuda era tahun 1920-1n. Rasa toleransi ini pecah sejak banyak daerah berusaha untuk melepaskan diri dari negara kesatuan ini, timbulnya upaya-upaya untuk melepaskan diri serta memberontak terhadap pemerintah merupakan bukti bahwa nilai toleransi sebenarnya sudah pudar pada saat era revolusi fisik. Pemberontakan DI/TII , APRI, RMS, serta sejumlah pemberontakan lain di indonesia, baik yang telah berhasil diselesakan atau belum hingga saat ini, semakin mempertegas bahwa kesadaran nasional semakin luntur. Suatu pembelajaran berharga mestinya dipetik dari lepasnya Timor-Timur dari pangkuan ibu pertiwi.

3 Kesalahan Menafsirkan Otonomi  Daerah

Kesalahan dalam memaknai otonomi daerah cenderng membuat rasa promordialisme semakin meningkat. dengan beranggaapan bahwa yang harus memimpin haruslah putra daerah. yang menjadi pertanyaan adalah yang manakah yang termasuk kategori putra asli daerah itu. Sadar atau tidak hampir semua penduduk suatu daerah kadang bukanlah asli daerah itu. otonomi daerah semestinya tidak diidentikkan dengan kekuasaan yang harus ada ditangan putra daerah, tapi otonomi daerah semestinya dimaknai sebagai suatu kesempatan untuk membangun daerah tertentu sesuai dengan tradisi serta kemampuan yang dimiliki oleh daerah tersebut yang disesuaikan pula dengan kemampuan sumberdaya manusianya serta SDAnya. Setiap orang mestinya tidak terlalu melebihkan dirinya disuatu daerah sebagai anak daerah, tetapi lebih merasa merupakan bagian dari yang lainnya. Dengan adanya otonomi daerah, jangan sampai rasa kebersamaan yang dibangun menjadi pudar karena statemen tentang putra daerah. Rasa saling memiliki sebagai bagaian dari kesadaran nasional sebagai suatu bangsa mestinya harus dipupuk dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: