Penguasaan Ekonomi Indonesia oleh Kekuatan Asing dan Kelompok Berkeley Mafia

Oktober 25, 2010

Mari sekarang kita telaah bagaimana beberapa ahli dan pengamat asing melihat peran kekuatan asing dan kelompok Berkeley Mafia dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1967.

Saya kutip apa yang ditulis oleh John Pilger dalam bukunya yang berjudul “The New Rulers of the World.” Saya terjemahkan seakurat mungkin ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller.

Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonom Indonesia yang top”.

“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.”

Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi.

‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya.

Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan.

Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya.

Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah “korporatokrasi”, paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya captain of industries atau para korporatokrat.

Para Perusak Ekonomi Negera-Negara Mangsa Benarkah sinyalemen John Pilger, Joseph Stiglitz dan masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya bahwa hutanglah yang dijadikan instrumen untuk mencengkeram Indonesia ?

Dalam rangka ini, saya kutip buku yang menggemparkan. Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul : “The Confessions of an Economic Hit man”, atau “Pengakuan oleh seorang Perusak Ekonomi”. Buku ini tercantum dalam New York Times bestseller list selama 7 minggu.

Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

Halaman 12 : “Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya di Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim yang terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru rencana pembangunan pembangkit listrik buat pulau Jawa.” Halaman 13 : “Saya tahu bahwa saya harus menghasilkan model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa”. “Saya mengetahui bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya.”

Halaman 15 : “Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran (justification) untuk memberikan hutang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsultan di mana John Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.

Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara penghutang (baca : Indonesia) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya.”

Halaman 15-16 : “Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima hutang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima hutang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintah-pemerintah penerima hutang.

Maka semakin besar jumlah hutang semakin baik. Kenyataan bahwa beban hutang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.”

Halaman 15 : “Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB.”

Halaman 16 : “Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani hutang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi.”

Halaman 19 : “Sangat menguntungkan buat para penyusun strategi karena di tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya, yaitu pemberdayaan perusahaan-perusahaan internasional dan organisasi-organisasi multinasional seperti Bank Dunia dan IMF.”

By Kaindea Kurnama

catatan ini ditulis oleh KKG dan diterbitkan oleh eramuslim.com

Aku posting kembali untuk dijadikan bahan renungan bagi anak negeri ini.

Politik Indonesia dan Kriminalisme

Oktober 22, 2010

Dewasa ini Bangsa Indonesia diakui oleh dunia sukses dalam menerapkan demokrasi yang merupakan warisan Yunani itu dalam pentas politik. Luar biasa memang menurut masyarakat dunia, karena dalam waktu sangat singkat bangsa ini mampu menjalankan politik warisan Bangsa Yunani kuno ini dalam kehidupan kebangsaan. Terbukti dengan adanya pemilihan umum untuk kursi kekuasaan baik di level paling rendah (Pemilihan di Ketua RT) sampai pada pemilihan pimpinan pusat (Presiden).

Secara nyata memang sistem demokrasi sekarang ini dikenal antara lain Sistem Demokrasi Pancalisa, Sistem Demokrasi Liberal, Sistem Demokrasi Terpimpin, Sistem Komunis, Sistem Sosialis, Sistem Islam, serta sejumlah tradisi politik yang lain. Paling menonjol dalam pelaksanaannya adalah sistem demokrasi liberal yang mengusung sejumlah kebebasan dalam berbagai sektor, seperti  politik, sosial, ekonomi, religi.

Mencermati perkembangan politk dewasa ini yang terjadi di Indonesia pasca lengsernya kekuasaan Orde Baru yang, peta perpolitikan di Indonesia cenderung sedikit membaik, artinya bahwa ada kebebasan dalam berbagai hal, salah satunya adalah kebebasan memilih dan dan dipilih serta kebebasan menyampaikan pendapat yang secara jelas telah diatur sebelumnya oleh UUD 1945 yang selama ini cenderung diabaikan oleh penguasa Orde Baru. Pengauasa era Orde Baru secara nyata melanggar UUD 1945 pasal 28 ini karena kebebasan berpendapat serta pers selama kekuasaan era Soeharto dikekang. Kini kebebasan berpendapat maupun hak pilih memilih telah dirasalah secara langsung oleh masyarakat. Namun secara politis, kenyataan bahwa sistem politik yang dipraktekkan pasca Orde Baru atau Era Reformasi sangat jauh dari yang diharapkan, yang terjadi sesunggunya adalah upaya membunuh karakter yang dilakoni oleh para politikus dalam upaya mencapai tujuan pilitiknya. Penulis ingin menyebutnya dengan  “sistem demokrasi politik kriminal”

Sekali lagi harus diakui  pergerakan politik yang terjadi di Indonesia ini sangat jauh dari praktek demokrasi yang ideal. Politik kriminal yang selama ini dipraktekkan di negeri ini menyebabkan terjadinya berbagai ketimpangan sosial di tengah masyarakat, primordialisme disuburkan, Uang sebagai pembeli suara, preman menjadi pengawal, etika dan norma pergaulan dalam masyarakat dilanggar serta sejumlah masalah yang lain.

Korupsi  di negeri ini ibarat hewan amoeba yang berkembang biak dari satu menjadi dua dan seterusnya, sehingga menjadi musuh nomor wahid di negeri ini. Pengadilan disibukkan dengan berbagai kasus yang paling menonjol yaitu kasus pemilukada dan korupsi. Ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan masyarakat akibat kriminalisme politik ini menyebabkan konflik sosial dan dendam yang berkepanjangan serta ketimpangan ekonomi.

1. Ketimpangan Sosial

Kurangnya pemahaman dalam pendidikan dan politik menjadi menyebab ketidak dewasaan perpolitikan masyarakat negeri ini. Secara politik kebebasan telah mendapat jaminan dalam perundang-undangan tetapi, realisasi politik itu sendiri jauh panggang dari api sehingga menjadi setengah masak. Beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya ketimpangan sosial akibat kriminalisme politik ini antara lain

a. Kedangkalan ilmu para pelaku politik yang lemah

b. Munculnya primordialisme kesukuan dan fanatisme agama

Banyak sekali para pelaku politik tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya sangat lemah dalam berpolitik tetapi egoisme lebih menguasai dirinya. Sehingga saat mencapai punya kekuasaan terlihat secara jelas ketidakmampuan merealisasikan aspirasi masyarakat dalam upaya pembangunan. Ketidakmampuan menjalankan amanah konstitusi menyebabkan kepincangan dalam pemerintahan serta layanan publik. Nepotisme menjadi menonjol karena primordialisme kesukuan dan fanatisme keagamaan. Para pejabat yang ada dalam lingkaran kekuasaan adalah keluarga dan kerabat, profesionalisme tak berarti apa-apa

2. Ketimpangan ekonomi dan pembangunan

Munculnya money politic dalam pesta demokrasi saat ini menyebabkan ketimpangan ekonomi dan pembanguna. Konflik sosial yang terjadi pasca pemilu memunculkan berbagai fenomena dalam kehidupan. Perseteruan dan Saling dendam antara pendukung berakibat pada konflik yang menyebabkan kemerosotan ekonomi. Terjadi nepotisme dalam pembangunan, pembangunan lebih di arahkan untuk kepentingan kelompok dan keluarga hal ini karena dipengaruhi oleh upaya untuk meneruskan kekuasaan untuk periode selanjutnya.

Tak perlu untuk disembunyikan. Pada umunya para drakula politik mempunyai satu orientasi pemikiran yaitu “Proyek“. Semakin banyak proyek maka semakin banyak pula pundi yang dihasilkan. Untuk merealisasikan pemikiran ini, maka dalam pembahasan anggaran belanja pembangunan, dibuat sebanyak mungkin mega proyek. Manipulasi belanja pembanguna menjadi satu-satunya cara untuk mengembalikan berapa besar dana kampanye.

3. Ketimpangan  Hukum dan HAM.

Siapa berkuasa ialah yang mengatur segalanya. Hukum sebagai lembaga independen hanya simbol. Sogok bukan lagi menjadi rahasia bagi umum. Kebenaran dan bukti atau fakta dihilangkan sebaliknya tindakan pembenaran menjadi trend dengan memanipulasi atau menginterpretasikan aturan hukum menurut kehendak  penguasa.

Beberapa tindakan di atas menyebabkan sistem perpolitikan kita tidak lebih dari upaya untuk membunuh karakter antar anak negeri ini sehingga menciptakan kriminalitas politik dalam kehidupan bangsa ini.

 

 

 

Upaya Mendiskriminasi Sejarah dan Umat Islam Indonesia

Oktober 16, 2010

Dewasa ini islam benar-benar dianggap sebagai ancaman, bukan saja oleh kalangan non islam tapi oleh penganutnya sendiri. Ajaran yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta ini diibaratkan sebagai ideologi yang merusak tatanan kehidupan masyarakat. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang berisi aturan tatanan kehidupan masyarakat baik dalam hubungan dengan sesama mahluk maupun dengan sang khalik ini, dianggap sebagai buku filosofi yang tak berarti, bahkan lebih buruk adalah Al-Qur’an didzolimi, diinjak-injak dibakar (peristiwa 11/09/2010)  dan masih banyak lagi perlakuan tidak manusiawi terhadap aturan Allah ini.

Yahudi merupakan kelompok yang tak pernah bisa melihat Al-Qur’an ini dibumikan. Berbagai cara propaganda dilakukan guna memberangus islam dan Al-Qur’an. Perlu diketahui bahwa orang-orang yahudi sangat paham dengan Al-Qur’an, namun mereka sangat malu dan tidak mau mengakuinya secara terang-terangan. Mereka mengira bahwa Al-Qur’an itu ciptaan manusia atau suatu mahluk, sehingga mereka dengan mudah bisa menghilangkan Al-Qu’an, mereka lupa bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Limpahan kekayaan alam berupa minyak bumi, emas dan hasil tambang lainnya yang  Allah kepada Bangsa Arab telah membuat bangsa barat khususnya Eropa dan Amerika menjadi gelap mata. Segala upaya dilakukan demi mendapatkan hasil kekayaan itu, yang tentunya dilakukan dengan jalan yang sangat tidak halal. Rekaya kitab suci Taurat dan Injil yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang sering dikenal dengan istilah “tanah yang dijanjikan” dijadikan sandaran untuk membenarkan tindakan para kafirin ini untuk memperoleh dan mencuri kekayaan Bangsa Arab dan khususnya harta kaum muslimin.

Tak perlu dirahasiakan, terjadinya perang salib merupakan salah satu contoh dimana usaha kafirin itu untuk menguasai tanah dan harta kaum muslimin. Perang salib itu hingga sekarang ini entah yang keberapa kalinya. Jika dikatakan bahwa perang salib telah berakhir, itu hanya omong kosong belaka. Pembunuhan atau kasus kekerasan terhadap umat islam di berbagai belahan dunia demikian juga di Indonesia adalah merupakan salah satu kelanjutan dari perang salib itu sendiri.

Berbagai peristiwa yang terjadi di kalangan umat islam dalam era milenium baru ini, selalu dipolitisasi sebagai seolah-olah umat islamlah yang mendalanginya. Sejarah mencatat dan Allah, masyarakat dan alam  menjadi saksi semua kejadian atau peristiwa pelecehan serta tindakan kriminal yang dilakukan oleh umat lain terhadap keyakinan dan akidah umat islam, khususnya terhadap ajaran islam. Demikian di Indonesia, beberapa kasus seperti Konflik di Maluku, Kasus di Bekasi, Kasus di Poso, serta berbagai kasus lain yang tak terekam oleh media. Kasus konflik di Maluku salah satu contohnya, di katakan bahwa konflik ini merupakan kasus salah paham yang bermula dari kasus perkelahian antara pemuda, monopoli ekonomi oleh para pendatang BBM ( Buton, Bugis, Makassar) serta ratusan alasan yang lain. Tapi terlepas dari semua alasan itu, fakta tidak bisa dibohongi dan masyarakat awam pun tahu, bahwa konflik itu murni adalah konflik bernuansa agama yang terkesan disusun dengan sangat rapi dan terorganisir. Memberangus umat islam Maluku itu adalah tujuan utama konflik Maluku, sebagai bagian dari perang salib itu sendiri.

Kasus yang sangat menonjol adalah upaya menjadikan Monokwari sebagai “kota injil” dengan perda yang berlandaskan injil, kasus ini jelas sangat menyakitkan perasaan umat ini dan merupakan tindakan pelecehan yang nyata. Pelarangan mengumandankan azan serta penggunaan simbol-simbol islam (busana muslim) menjadi bukti bahwa toleransi kebhinekaan yang selama ini di junjung hanyalah simbolitas tanpa arti.

Kasus kejadian di Bekasi, menjadi salah satu bukti bahwa ada upaya mengganggu kenyamanan umat islam Bekasi dan umumnya Indonesia. SKB Tiga Menteri yang dijadikan acuan bagi kehidupan beragama, hanya barisan huruf-huruf yang berjejer rapi tanpa makna di lembaran kertas. Dengan memanipulasi perizinan dari warga sekitar perkampungan di ciketing dan dengan alasan SKB Tiga Menteri untuk kebebasan beragama, maka tanpa peduli dengan perasaan umat islam, jamaah HKBP melakukan peribadatan di rumah seorang jamaahnya yang kemudian tempat itu dijadikan sebagai lokasi untuk pendirian tempat peribadatan. Lokasi ini terletak dipemukiman yang mayoritas umat islam. Masih sangat segar dalam ingatan kita, peristiwa kejadian tanggal 12 September 2010 yang masih dalam suasana lebaran, ratusan Jamaah HKBP melakukan konvoi keliling di perkampungan warga lalu berpapasan dengan beberapa warga muslim yang kemudian terjadi perkelahian, sehingga menimbulkan korban jiwa.  Media pun membesar-besarkan hal ini. Berbagai media cetak menulis FPI sebagai dalang dan ketuanya dinon aktifkan, anggota PFI ditangkap sementara para jamaah HKBP yang melakukan konvoi liar di perkampungan warga bebas. Pendeta dan jamaah HKBP yang dirawat di RS dibiayai oleh negara, aktifis islam di RS ditelantarkan, bahkan ada yang ditangkap saat menjalani perawatan di RS. Media menulis warga muslim/OTK melakukan upaya pembunuhan terhadap pendeta HKBP. Bagaimana mungkin 9 orang menghadang ratusan massa. Berbagai keanehan muncul ketika di undang untuk dialog, mengapa para pendeta HKBP tidak ada yang datang, padahal mereka termasuk yang memprakarsai forum dialog itu. Kejadian ini malah dibawa ke forum internasional. ini adalah upaya untuk mendiskreditkan umat islam Bekasi dan Indonesia secara umum.

Kita tak boleh lupa, bahwa upaya untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu, kekangan, jajahan serta penindasan bangsa barat lebih banyak dilakukan oleh umat islam negeri ini. Mulai dari Sultan Hairun, Sultan Baabullah, Sultan Iskandar Muda, Sultan Agung, Sultan Hasanuddin, Sultan Trenggano, Sunan Gunung Jati/Fatahillah, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Pangeran Antasai, Bung Tomo, sampai Panglima Besar Jenderal Sudirman adalah tokoh agama yang memperjuangkan kebebasan/kemerdekaan bangsa ini dengan satu landasan yang jelas yakni islam sebagai landasan perjuangan, bukan pancasila. Sebut saja, organisasi pertama yang didirikan oleh tokoh bangsa ini adalah Sarikat Dagang Islam yang dibentuk oleh Haji Samanhudi pada tahun 1905. Tetapi, mengapa sejarah mengingkari  itu. dan mengapa Budi Utomo yang belakangan dibentuk dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional, ini sangat jelas bahwa ada upaya untuk menenggelamkan sejarah kejayaan islam di Bumi Nusantara ini.

Salah satu bukti konkrit dalam upaya menenggelamkan sejarah emas muslim tanah air adalah dengan mengganti mukaddimah pembukaan UUD 1945 yakni  Sila Pertama, yakni Ketuhanan dengan menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya. Dengan dalih kebhinekaan dan toleransi serta kemajemukan bangsa ini, maka sila ini diganti dengan kalimat  Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini sangat nyata bahwa ada upaya untuk menenggelamkan sejarah perjuangan umat muslim tanah air dalam upaya membebaskan bangsa ini. Apa yang terjadi dikemudian hari adalah bukti bahwa pancasila tidak banyak berarti apa-apa bagi bangsa ini, toleransi yang didengung-dengungkan di injak-injak, aktifis islam diberangus, ulama ditindas dan dibunuh,  bahkan pada masa ORBA, islam dianggap sebagai ancaman oleh penguasa negeri ini. Militer di era Soeharto benar-benar memberangus segala sesuatu yang bernafaskan islam.

Kita berada di milenium baru, lebih kejam lagi dari sebelumnya. Kalau masa ORBA, Ulama dan aktifis muslim dibunuh dengan penjara seumur hidup atau disuntik/ masukkan kedalam ruang gas beracun ( sepertinya cara itu sedikit beretika menurut anggapan penguasa ORBA), maka kemudian berkembang alasan  bahwa aktifis/ulama itu meninggal karena serangan jantung. Kini pemberangusan aktifis islam/ulama lebih nyata lagi, yakni langsung didoor. Tembak dulu, penjara dulu, proses hukum dari belakang, salah benar urusan terakhir.

Zaman ORBA aktifis islam disebut Separatis. Sekarang muncul sebuah istilah baru untuk aktifis islam/ulama, istilah pinjaman dari dunia barat yang belum mampu didefenisikan oleh para pakar yakni ” terorisme”. Bush menggunakan kata ini untuk memerangi muslim di Irak dan Afganistan (Al-Qaidah), Israel menggunakannya untuk memberangus Pejuanga Palestina (Hamas), semua itu adalah ingin menguasai sumber minyak atau emas hitam negeri muslim itu. Pasukan anti teror (Densus 88) merupakan pasukan Polisi Amerika / Australia di Indonesia yang bertugas untuk memberangus aktifis /ulama islam di nusantara ini dengan stempel teroris.

pendiskriminasian umat islam Indonesia di milenium ini sangat nyata. diwaktu yang sama upaya kristenisasi di Indonesia benar-benar subur dan mendapat perlindungan hukum dengan dalih kebebasan beragama. Ibarat jalan, Ketika aktifis dan ulama berdakwah maka, HAM, penguasa dan pengadilan berdiri tegak (menghadang), tetapi ketika kristenisasi permisi maka HAM, Penguasa dan pengadilan menjadi jembatan penghubung.

Penguasa negeri ini benar-benar lupa siapa sesungguhnya yang berjuang membebaskan bangsa ini.

“Muslim memberikan emas, penguasa membalasnya dengan air tuba”, itulah yang terjadi saat ini.

 

Ambon, 16 Oktober 2010

 

Kaindea Kurnama

 

Menengok Semangat Nasionalisme Kini

April 19, 2010

Adalah sebuah warisan sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh segenap generasi bangsa ini, pencarian identitas sebagai bangsa yang beradab, memiliki martabat sebagai anak bangsa. Sejak masih kerajaan tradisional, semangat nasionalisme serta mencintai bangsanya sudah ada, Raja Kertanegara menghakimi utusan Raja Khubilai Khan yang datang ke Kerajaan Melayu menunjukkan bahwa betapa besar rasa cinta terhadap tanah airnya juga adalah karena semangat nasionalismmenya.

pemberontakan Sultan Agung dari Kerajaan  Mataram akibat dari ulah Belanda yang ingin memonopoli perdagangan di kerajaan tersebut, demikian juga dengan perjuangan Sultan Iskandar Muda, Thomas Matulessy, Pangeran Antasari, serta para pahlawan lain sebelum era masa pergerakan menunjukkan betapa rasa cinta tanah air serta semangat yang sangat tinggi dalam membela tanah air tercinta bumi nusantara.

Perjuangan yang tak kenal lelah dalam upaya mengusir penjajah barat semua ini membuktikan betapa semangat nasionalisme yang sangat tinggi diperlihatkan oleh para leluhur bangsa  ini yang kelak menjadi warisan penting bagi generasi bangsa ini. pergerakan nasional indonesia yang muncul pada awal abad ke-  20, menjadi hal yang sangat penting untuk dijadikan sebagai wahana untuk memupuk semangat cinta tanah air. dalam era globalisasi dewasa ini, dengan perkembangan ilmu dan tekologi dewasa ini diserta dengan persaingan pasar yang begitu ketat, membanjirnya produk-produk luar, kurangnya minat terhadapat hasil produksi dalam negeri semakin menunjukkan bahwa semangat cinta terhadap bangsa dan tanah air semakin merosot.

bukan hal yang baru jika kita menyaksikan begitu banyak pelajar yang sering  tawuran baik antara sekolah maupun dengan sekolah lain, munculnya semangat primordialisme, kurangnya penerapan nilai-nilai religi terhadap pelajar sehingga tingkat kenakalan remaja meningkat.

munculnya otonomisasi daerah serta kekeliruan dalam memaknai maksud otonomi tersebut,  maka timbul berbagai masalah yang mengancam integritas NKRI. Banyak daerah mengancam ingin melepaskan diri dan mau menjadi negara merdeka. sumpah pemuda serta peristiwa-peristiwa penting lainnya yang sarat dengan nilai sejarah semakin dilupakan oleh generasi bangsa ini

Konsep penting dalam Sumpah Pemuda harus dimaknai dengan seksama oleh seluruh komponen pemuda serta seluruh elemen masyarakat. Sebagai peristiwa yang sangat sakral, Sumpah Pemuda yang mampu menyatukan seluruh komponen Bangsa Indonesia harusnya dijadikan t0lak ukur dalam kehidupan bersama masyarakat indonesia dewasa, mengingkat semakin kompleksnya  masyarakat seiring dengan jalanya waktu serta kebutuhan.

Salah satu penyebab banyak timbulnya berbagai masalah seperti  sering terjadinya pertikaian masal baik antar masyarakat, kalangan pelajar / mahasiswa maupun pertentangan antar penguasa baik secara fisik maupun melalui perang urat saraf  adalah kurangnya semangat nasionalismenya. Melalui pergerakan serta semangat kebangsaan yang tinggi / nasionalisme itulah Bangsa Indonesia bisa hidup di alam kemerdekaan.

Sebagai klimaks dari perjuangan Bangsa Indonesia adalah dengan diproklamasikannya kemerdekaan Bangsa Indonesia pada Tangga l 17 Agustus 1945. Berbagai peristiwa penting yang mewarnai perjalanan bangsa ini harusnya menjadi pelajaran berharga dalam upaya menumbuhkan semangat  kebangsaan dewasa ini. Olehnya itu, semangat nasionalisme harusnya dipupuk terus pada generasi bangsa ini, khususnya dikalangan pelajar dan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, Sehingga bangsa ini akan kembali terintegrasi dengan baik dan terhindar dari upaya disintegrasi.

Nasionalisme dewasa ini jelas berbeda dalam praktinya dengan nasionalisme sebelumnya. Nasinalisme sebelumnya diwujudkan melalui perjuangan yang nyata dengan mengangkat senjata untuk melawan kaum penjajah diberbagai daerah oleh rakyat. Walaupun masih bersifat kedaerahan, namun merupakan embrio bagi munculnya persatuan dan kesatuan serta integrasi bangsa dikemudian hari, hal ini terbukti dengan dilaksanakannya Sumpah Pemuda yang mengakomodir seluruh komponen pemuda di Tanah Air ini walaupun hanya melalui perwakilannya.  Pada era awal abad ke-20, semangat nasionalisme muncul melalui pergerakan nasional dengan organisasi sebagai kendaraannnya.  Tokoh-tokoh penting berjuangan dengan alat organisasi sebagai wujud kecintaanya kepada bangsanya.  Agak sedikit berbeda dengan masa revolusi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jika masa sebelumnya nasionalisme diwujudkan melalui pergerakan nasional, maka pada masa ini semangat nasionalisme semakin kental, semangat nasionalisme diwujudkan dengan melalui perjuangan baik fisik bersenjata maupun dengan organisasi diplomasi.

Nasionalisme seperti apakah yang seharusnya untuk dewasa ini…? ini tentunya harus dilihat secara lebih bijak lagi. Harus diakui secara jujur bahwa Nasionalisme kini mengalami degradasi. Banyak faktor tentunya yang mempengaruhi perkembangan nasionalisme dewasa ini, pengaruh yang paling menonjol adalah pengaruh dari luar yang berkaitan dengan budaya barat, Tentunya yang berkaitan dengan berbagai model kebudayaan serta tradisi barat serta segala hasil produk barat. Media massa serta media elektronik menjadi jembatan yang ampuh dalam mempengaruhi pemikiran kaula muda. Ini tentunya akan menjadi PR bagi seluruh komponen bangsa ini untuk mengembalikan semangat cinta terhadap tanah air. Pengetahuan yang baik mengenai nasionalisme serta cinta tanah air harus diberikan kepada generasi bangsa ini khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa. Hari-hari besar nasional khususnya Sumpah Pemuda harus dilaksanakan bukan sekedar hanya melalui upacara tetapi harus direalisasikan sebagaimana awalnya. Menjaga identitas nasional adalah sangat penting, menjaga identitas nasional ini tentunya berkaitan erat dengan menjaga budaya daerah.  Terkait dengan hal ini, maka kurikulum lokal sangat penting.

Berkaitan dengan hal ini, maka seluruh komponen bangsa ini harus benar-benar menyadari bahwa semangat kebangsaan harus ditanamkan kepada setiap generasi.

Oleh : Kaindea

Masyarakat Madani

April 18, 2010

Selama ini pada umumnya masyarakat internasional  sering mengatakan bahwa civil society adalah sama dengan masyarakat madani. ini sebenarnya adalah merupakan salah satu kekeliruan besar tentang masyarakat madani maupun civil society. Banyak  pakar menyatakan demikian bahwa civil society adalah masyarakat madani itu sendiri. Sebut saja Nurcholis Madjid, yang sering menyebut konsep masyarakat madani sama dengan civil society. Civil Society lahir dari pemikiran serta peradaban barat dengan berbagai  bentuk budayanya. Dalam konsep masyarakat sipil atau Civil society yang berasal dari paham barat, didalamnya ada berbagai paham liberalisme, kapitalisme, kolonialisme, imperialisme serta berbagai isme-isme lainnya yang ada dibarat sana bercampur aduk menjadi satu yang kemudian melahirkan konsep masyarakat sipil atau civil society yang kemudian dipoles menjadi masyarakat demokrasi ala yunani. sehingga konsep yang dimaksud oleh Nurcholis Madjid bukan merupakan konsep atau masyarakat madani melainkan civil society

Berbeda dengan paham barat, masyarakat madani sesungguhnya adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai islam yang tertera dengan sangat jelas dalam Al-Quran serta memiliki nilai yang sangat baik serta tidak terkontaminasi dengan isme-isme lainnya baik itu dari barat maupun dari tanah arab itu sendiri. Dalam sistem yang berlaku dalam masyarakat madani demokrasi sesungguhnya  berlangsung dengan sangat baik. Hal ini karena keterbukaan semua komponen dalam sistem masyarakat ini. Tidak ada sekat antara pemimpin dengan masyarakat, masing-masing menjalankan tugas serta kewajiban dengan sangat baik. Ini terjadi, karena amanah yang diemban oleh semua komponen dalam masyarakat madani baik itu pemimpin (khalifah ) maupun masyarakat dipertanggung jawabkan dihadapan Allah yang  merupakan pemberi amanah, amanah atau tugas dianggap pemberian Allah bukan limpahan wewenang dari manusia. musyawarah menjadi hal yang sangat penting dalam segala urusan. Pemimpin dipilih melalui musyawarah. Musyawarah dalam sistem ini bukan seperti pemilihan umum yang harus ada perangkat lembaga lainnya.

Sistem dalam masyarakat madani ini, jelas  sangat jauh berbeda dengan dengan civil society menurut konsep barat. Dalam konsep civil society masyarakat barat, demokrasi kapitalis-liberalis  lebih menonjol, sehingga dalam prakteknya dan pelaksanaannya masyarakat kecil cenderung menjadi korban, hal ini disebabkan kekuasaan dipegang oleh kaum kapitalis yang memiliki modal besar. Keterwakilan sesunggunya bukan tidak untuk masyarakat pada umumnya tetapi lebih didasarkan pada kepentingan kaum kapitalis, sehingga tidak jarang muncul korupsi, masyarakat hanya di iming-imingi oleh para penguasa dengan sejumlah janji perubahan kehidupan yang lebih baik.

sistem masyarakat civil society mengarah ke demokrasi sebagaimana sistem yang berlaku pada masyarakat eropa (Yunani).  Kepemimpinan dalam sistem ini adalah bebas bagi semua orang dengan sejumlah persyaratan. Siapapun bebas menjadi pemimpin atau penguasa, asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan salah satunya adalah masalah identitas seperti Ijazah serta tingkat pendidikan tertentu serta kecakapan dan pengalaman organisasi. Masyarakat civil society, moral serta keimanan bukan menjadi modal utama, karena yang lebih utama adalah demokrasi liberalisme yang memisahkan antara agama dan politik kekuasaan. Pertanggung jawaban tugas dan kewajiban yaitu kepada dewan perwakilan ( manusia) sehingga jelas berbeda dengan masyarakat madani yang menganut konsep islam yang kaffah.

pada umumnya masyarakat yang ideal menganut sistem masyarakat madani yang benar-benar kaffah tidak ada satupun di dunia saat ini, sekalipun Arab Saudi yang dimana rumah atau kiblat ummat islam berada. Masyarakat Madani hanya terjadi pada masa Kepemimpinan Rasulullah SAW serta Khulafaur Rasyidin. Setelah berakhirnya periode mereka, umat islam terpecah dan terkotak-kotak kedalam kelompok-kelompok yang saling memusuhi. Hingga saat ini tidak ada lagi suatu masyarakat yang hidup sebagai masyarakat yang madani.

Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan umat islam terbesar di dunia lebih banyak menganut konsep civil society, sangat jauh dari masyarakat madani. Demokrasi Yunani berkembang dengan sangat subur di Indonesia saat ini, sehingga Indonesia disebut-sebut sebagai negara demokrasi terbesar di dunia setelah Amerika. Karena Indonesia menganut sistem civil society liberalis,  maka tak heran banyak pertentangan didalamnya. Karena setiap orang bebas menyatakan pendapat dan berbuat apalagi disahkan dengan undang-undang  (kitab hasil pemikiran manusia /Dewan ). Muncul berbagai aturan perundang-undangan  yang menjadi landasan pijak bagi masyarakat saat ini di Indonesia selain Kitab Allah Al-Qur’an.

Entah sampai kapan semua ini akan berlangsung, yang jelas bahwa saat ini tidak ada satu negara pun di dunia ini, apalagi Indonesia yang menjalankan kehidupan masyarakat madani.

Lunturnya Kesadaran Nasional

Maret 9, 2009

Nasionalisme bangsa indonesia cenderung mengalami penurunan yang sangat drastis, khususnya pada anak remaja. Fenomena yang muncul akhir-akhir ini adalah rasa kesukuan. Rasa primordialisme ini cenderung menggeser semangat kebangsaan, apalagi ditengah tantangan globalisasi dewasa ini. Pertentangan antar etnis, konflik bernuansa sara, juga sejumlah permasalahan lain yang mengancam keutuhan bangsa ini. disintegrasi bangsa merupakan sebuah persoalan besar yang menjadi tantang bagi pemerintah kedepan disamping masalah kesejahteraan. Munculnya disintegrasi bangsa disebabkan karena banyak kalangan yang selalu keliru dalam menafsirkan otonomi daerah.

Kemerdekaan yang diperjuangan oleh segenap leluhur bangsa ini yang tanpa mengenal latar belakang,  sebenarnya  merupakan modal dasar terwujudnya indonesia yang berkesatuan.

menurut hemat penulis bahwa, semakin berkurangnya nasionalisme serta kesadaran nasional yang ada pada generasi penerus bangsa ini antara lain :

1. kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai historis

Nasionalisme Bangsa Indonesia sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan hindu budha, walaupun secara nyata saat itu belum ada yang namanya ” Bangsa Indonesia”. Raja Kertanegara yang memotong telinga utusan Khubilai Khan, sebagai sombol rasa cintanya akan bangsanya yang saat itu merupakan Kerajaan Tarumanegara. Perlawanan Raden Mas Rangsang ( Sultan Agung) pada penjajah Belanda, demikian juga dengan Srikandi dari Aceh ( Cut Meuthia). Sultan Iskandar Muda, Sultan Nuku, Pattimura, merupakan secuil dari bukti bahwa nasionalisme telah ada jauh sebelum kedatangan bangsa barat di indonesia. munculnya kerajaan islam di indonesia semakin mempertegas rasa nasionalisme serta kedasaran akan adanya hidup berdampingan sebagai satu bangsa. Hal ini dapat kita lihat bahwa saling membantu dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda terlihat secara jelas. Dengan menggunakan Perahu Pinisi, para pelaut asal sulawesi membantu perlawanan masyarakat maluku dan maluku utara dalam menentang belanda, hal ini karena dilandasi semangat dan kesadaran yang tinggi untuk hidup sebagai satu bangsa. Adanya politik etis serta munculnya golongan terpelajar yang bangkit dari keterpurukan serta penindasan barat semakin mempertegas semangat nasionalisme serta kesadaran nasional, lahirnya organisasi kepemudaan hingga pelaksanaan Sumpah Pemuda merupakan bukti tingginya kesadaran nasional yang dimiliki oleh para pendahulu kita. Dewasa ini semua nilai-nilai historis itu cenderung dilupakan oleh generasi bangsa ini. jika hal ini tidak dapat diatasi maka bukan suatu hal uang mustahil bangsa ini akan terpecah.

2. Hilangnya Rasa Toleransi

Suatu keluarga akan terbentuk dengan baik serta harmonis jika nilai toleransi dijadikan sebagai fondasinya, demikian juga dengan suatu bangsa. Bangsa Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa yang sangat beranekaragam suku bangsa dan budayanya. Sejak jaman pra kerajaan di indonesia toleransi sudah ada, telah ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang baik antara masyarakat prasejarah indonesia. dan itu berlangung hingga munculnya negara-negara kerajaan baik yang bercorak hindu buhda maupun islam. Rasa toleransi itu mencapai puncaknya dengan diikrarkannya hidup satu bangsa, memakai satu bahasa, serta mengakui sebagai satu tanah air yaitu indonesia oleh para pemuda era tahun 1920-1n. Rasa toleransi ini pecah sejak banyak daerah berusaha untuk melepaskan diri dari negara kesatuan ini, timbulnya upaya-upaya untuk melepaskan diri serta memberontak terhadap pemerintah merupakan bukti bahwa nilai toleransi sebenarnya sudah pudar pada saat era revolusi fisik. Pemberontakan DI/TII , APRI, RMS, serta sejumlah pemberontakan lain di indonesia, baik yang telah berhasil diselesakan atau belum hingga saat ini, semakin mempertegas bahwa kesadaran nasional semakin luntur. Suatu pembelajaran berharga mestinya dipetik dari lepasnya Timor-Timur dari pangkuan ibu pertiwi.

3 Kesalahan Menafsirkan Otonomi  Daerah

Kesalahan dalam memaknai otonomi daerah cenderng membuat rasa promordialisme semakin meningkat. dengan beranggaapan bahwa yang harus memimpin haruslah putra daerah. yang menjadi pertanyaan adalah yang manakah yang termasuk kategori putra asli daerah itu. Sadar atau tidak hampir semua penduduk suatu daerah kadang bukanlah asli daerah itu. otonomi daerah semestinya tidak diidentikkan dengan kekuasaan yang harus ada ditangan putra daerah, tapi otonomi daerah semestinya dimaknai sebagai suatu kesempatan untuk membangun daerah tertentu sesuai dengan tradisi serta kemampuan yang dimiliki oleh daerah tersebut yang disesuaikan pula dengan kemampuan sumberdaya manusianya serta SDAnya. Setiap orang mestinya tidak terlalu melebihkan dirinya disuatu daerah sebagai anak daerah, tetapi lebih merasa merupakan bagian dari yang lainnya. Dengan adanya otonomi daerah, jangan sampai rasa kebersamaan yang dibangun menjadi pudar karena statemen tentang putra daerah. Rasa saling memiliki sebagai bagaian dari kesadaran nasional sebagai suatu bangsa mestinya harus dipupuk dengan baik.

Merosotnya Moral Remaja

Agustus 10, 2008

Sebagai tulang punggung bangsa, penerus tongkat estafet, remaja punya peranan yang sangat penting dalam mengisi pembangunan. Dalam negara manapun remaja adalah penerus pembangunan.

dekimian halnya juga di indonesia, tidak terlepas dari hal ini.  merosotnya moral generasi muda dalam hal ini remaja, merupakan pertanda akan akan merosotnya moral anak bangsa.

dewasa ini sangat tidak bisa dipungkiri, ketidak mampuan remaja dalam filterisasi budaya yang datang dari luar merupakan penyebab merosotnya moral para penerus tonggak bangsa ini. belum lagi lingkungan dimana mereka tinggal yang terkadang tidak mendukung pembentukan moral mereka. Para anak remaja dewasa ini lebih mencintai budaya yang didatangkan dari luar.

Media massa merupakan salah satu faktor penting yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian anak-anak remaja. Pemutaran  film-film yang kurang mendidik moral generasi sangat di sayangkan. Dapat kita saksikan setiap hari di layar tv adegan-adegan yang sama sekali merusak moral anak-anak remaja bangsa ini. Apalagi anak-anak yang masih belia sudah akting pacaran dalam film. Sadar atau tidak semua itu sangat berpengaruh bagi generasi bangsa ini. sehingga tidak jarang setiap hari kita mendengar terjadi kasus asusila di kalangan anak remaja, tragisnya lagi terjadi pada anak usia SD. sering kita dengar bahwa si A yang nota bene adalah anak usia SD dan SMP melakukan kasus asusila terhadap temannya yang sama adalah SD maupun SMP juga, ketika di tanya sering mereka jawab bahwa mereka meniru adegan ciuman yang di tayangkan pada film-film. bahkan lebih rusaknya lagi, anak-anak remaja dewasa ini tidak jarang kita saksikan mereka berjalan dan berciuman dengan lawan jenisnya yang sama sekali bukan saudaranya, itu terjadi didepan umum, mereka menganggap seolah-olah itu hal yang biasa, demikian juga dengan orang-orang yang menyaksikan hal itu, seakan mereka menutup mata dengan hal itu.

Semestinya, dalam menampilkannya, baik di film-film maupun di media massa seharusnya lebih memperlihatkan budaya yang baik untuk ditiru oleh generasi bangsa ini, harus banyak mengandung pesan moral yang bermanfaat, bukan sebaliknya membuat kepribadian generasi bangsa ini keluar dari etika dan norma. juka hal ini akan terus di biarkan, maka bukan suatu keniscayaan akan hancurnya bangsa ini.

Yang lebih parah lagi adalah terjadi di kalangan mahasiswa di perguruan tinggi yang merupakan agen of change. Dapat kita lihat hampir 75 %  mahasiswa baik diperguruan tinggi negeri maupun swasta, menggunakan busana yang tidak patut untuk dipakai dalam menuntut ilmu. Para pengajar juga seakan-akan melihatnya sebagai hal yang suatu hal yang baik, pada hal secara yuridis sangat bertentangan dengan aturan akademik.

Penggunaan busana yang terkadang memperlihatkan sebagian dari anggota tubuh mahasiswa maupun pelajar, busana yang kecil ukurannya.

Mendewakan akal,  juga merupakan suatu faktor yang berpengaruh terhadap kepribadian anak remaja. Kebebasan berpikir yang tanpa di landasi dengan norma dan etika agama yang memadai ini, banyak membuat kalangan anak remaja menjadi kurang beretika. Hal ini dapat kita lihat keberanian mereka dalam membantah perkatan serta nasihat mereka orang tua.

Keluarga juga terkadang membuat anak remaja menjadi kurang beretikan. pendidikan dalam keluargalah yang  merupakan faktor penting dalam pembentukan kepribadian anak remaja. karena banyak waktu yang tersedia dalam keluarga.

Melihat beberapa fenomena di atas, maka sudah menjadi tanggung jawab semua pihak untuk membuka mata dan melihat masalah ini. Pada kesempatan ini, penulis mencoba memberikan saran untuk menjawab masalah degradasi moral remaja bangsa ini. Adapun solusi penulis antara lain:

  • Pembatasan media elektronik maupun media cetak yang bersifat hedonis untuk kalangan remaja
  • Perlunya sosialisasi budaya busana yang beretika pada anak remaja
  • Perlunya penegakkan aturan berbusana yang relevan untuk lembaga baik formal maupun non formal dalam dunia pendidikan
  • Perlunya peningkatan peranan pendidikan dalam keluarga
  • Peningkatan peranan fungsi kontrol sosial yang tinggi terhadap remaja
  • peningkatan peranan lembaga-lembaga agama
  • perlunya peran dan fungsi lembaga pemerintah maupun swasta untuk melakukan fungsi kontrol terhadap pergaulan anak remaja
  • dan lain-lain

Oleh : Kaindea

Mahasiswa Universitas Pattimura

Proram Study Pendidikan Sejarah

Tulisan ini sebagai keprihatinan penulis akan degradasi moral generasi bangsa ini.

pentingnya arti sejarah

Agustus 4, 2008

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat banyak orang lupa akan perjalanan kisah penting dari masa yang telah memberitahukan kepada kita darimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu mulai perkembangannya. sejarah seakan terlupakan begitu saja, seakan tercampakkan begitu saja. bukankah presiden kita yang pertama dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah (JASMERAH). Namun ternyata generasi bangsa ini, apalagi generasi yang lahir dari era 70an dan 90an benar-benar melupakan sejarahnya, meraka tidak pernah menyadari betapa pentingnya arti sejarah.

Dalam kalangan masyarakat bahkan kalangan intelektual sekarang, dalam pikiran mereka menganggap sejarah hanya kisah masa lalu, kisah tentang batu-batuan yang tiada berguna, mereka sebenarnya lupa bahwa sejarahlah yang memberitahukan kepada mereka suatu ilmu, mereka lupa bahwa sejarahlah yang memberitahukan kepada mereka bagaimana mereka dilahirkan, dibesarkan dan berproses hingga dewasa ini. Mereka tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya sejaralah yang mengajak mereka untuk untuk melakukan perubahan terhadap hidup mereka, pekerjaan mereka.

Dari manakah seorang mendapatkan ilmu, darimana seseorang punya pengetahuan tentang sesuatu, siapa yang menulis dan apa yang merekam semua pengalaman yang pernah terjadi, sejarahlah yang menjadi saksi atas semua itu, namun hanya sedikit dari orang-orang yang menyadari hal itu.

seseorang tidak mungkin mengulangi melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya, karena ia menyadari bahwa itu hal yang tidak baik baginya, makanya ia akan melakukan perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya. itulah pentingnya arti sejarah,  sejarah mengajak kita untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. sejarah mengajak kita untuk menatap masa depan kita besok.

Dewasa ini kesadaran akan sejarah bangsa ini dari hari kehari semakin mengalami degradasi, kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para leluhur bangsa ini seakan sirna. kesadaran akan sejarah bangsa semakin hilang dari benak generasi bangsa ini, mereka melupakan sejarah bangsanya. menyadari akan hal ini, maka kepada segenap komponen bangsa ini harus segera mengambil langkah yang bijak agar kelestarian sejarah bangsa ini bisa terjaga, terjaganya sejarah bangsa ini, berarti akan terjaga pula identitas bangsa ini.

5 januari 2008

oleh : sas btn